Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Iman Bisa Naik-Turun, Bertambah dan Berkurang

Iman Bisa Naik-Turun, Iman Bisa Bertambah dan Berkurang
Iman Bisa Naik-Turun, Bertambah dan Berkurang, bahkan hilang saat berbuat maksiat.

Tanya: Apa benar iman kita itu bisa bertambah dan berkurang alias naik-turun? Bagaimana bisa? Bagaimana biar iman kita stabil dan bertambah terus? Terima kasih.

JAWAB: Ya benar. Rasulullah Saw bersabda:

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ

 "Iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang" (HR Abu Nu'aim).

Iman adalah percaya atau yakin bahwa Allah SWT satu-satunya Tuhan yang berkah disembah, dengan bukti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana tertuang dalam Syariat Islam.

Ibnu Taimiyah berkata, “Telah diketahui bahwa iman adalah iqrâr (pengakuan), tidak semata-mata tashdîq (membenarkan). Dan iqrâr (pengakuan) itu mencakup perkataan hati, yaitu tashdîq (membenarkan), dan perbuatan hati, yaitu inqiyâd (ketundukan hati)”.

Salah satu ciri orang beriman adalah bertambah imannya ketika mendengarkan atau dibacakan ayat-ayat Allah SWT (QS. 8:2).

Iman seseorang berkurang, bahkan hilang, ketika ia berbuat maksiat (HR Bukhari dan Muslim).

Dalil yang menjelaskan naik-turun atau tambah-kurangnya iman antara lain:

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (QS. Al-Fath/48: 4) .

“Dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya)” (QS. Al-Anfāl/8: 2).

“Dan bila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapa di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.” (QS. At-Tawbah/9:124) .

Ayat di atas jeas menyebutkan bertambahnya uman. Meski tidak secara eksplisit menyebutkan berkurangnya iman, namun dengan ditetapkan kata “betambah” berarti mencakup pula kata “berkurang”.

Agar iman stabil, bahkan terus bertambah, maka laksanakan segala perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya, sering dzikir dan baca Quran, menghadiri majelis ilmu (pengajian), dan bergaullah dengan orang-orang shaleh dan lingkungan Islami (religius).

Para ulama mengingatkan, teman bergaul juga menentukan pola pikir dan akhlak atau perilaku kita. Wallahu a’lam bish-shawabi.*

Senin, 01 Oktober 2012

Iman Semakin Merudum?





﴿﷽﴾
In The Name of Allah, The Most Gracious, The Most Merciful
Muqaddimah

﴿ اِقْرَاۡ بِاسْمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ﴾
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”
[al-Alaq : 1]

…………………………………………………………………

“Inna Alhamdulillah, nahbuduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu, wa na’uzubillah min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina, man^yahdihillahu falaa mudhillalahu, wa man^yudhil falaa hadiyalah, wa ashadu ‘an~la ilaha illa Allah wahdahu la syarikalah, wa ashadu ‘anna Muhammad ﷺ ‘abduhu wa rasuluhu. Amma ba’d.”

“Segala puji hanya milik Allah subhana wata’ala, kami memujiNya dan memohon pertolongan padaNya dan ampunan kepadaNya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amalan perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petujunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi bahawa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad ﷺ itu hambaNya dan RasulNya.”

Mungkin sekarang di luar sana masih ada di antara kita yang ada waktunya merasa imannya memuncak, dan ada kalanya merudum imannya. Telah puas mencari jawapan, namun tidak ketemu jawapannya. Syukur Alhamdulillah, puji-pujian milik-Nya kerana memberi peluang kepada saya untuk memberikan jawapan yang mungkin anda cari-cari selama ini, insha-Allah.

Kita sebagai umat Islam, Allah mengurniakan suatu kemanisan buat kita yang tiada pada penganut agama lain, yakni keimanan. Iman bermaksud membenarkan dengan hati, mengakui dengan lidah serta mengamalkan dengan perbuatan. Kemanisan iman dapat dirasai bila kita merasai manisnya seperti madu hati ini apabila melakukan sebarang amal kebaikan, tidak takut dengan tindakan kita serta yakin tindakan kita itu betul. Orang yang mendapat kemanisan iman akan percaya dengan kalimah ini:

حَسْبُنَا اللہُ وَنِعْمَ الْوَکِیۡلُ
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
[Ali-Imron : 173]

Yakni, mereka (orang beriman) ini yakin sepenuhnya pada Allah untuk melindungi mereka. Namun, kadang-kadang akan tiba waktu di mana kemuncak iman itu semakin merudum. Kita merasakan malas mahu beribadat, sedangkan dulu sewaktu kita masih kuat iman, kita rajin melakukan solat sunat dan sebagainya.
Hal ini terjadi atas beberapa perkara yang akan saya jelaskan dan bagaimana cara untuk menanganinya, insha-Allah.

Amalan Harian Kita

Mungkin anda pernah merasakan, apabila melakukan solat subuh, masha-Allah, terasa manisnya iman kita, rasa lembut sahaja. Seolah-olah, kita seperti kita mahu melakukan amalan baik sahaja sepanjang hari. Namun, mungkin pada malamnya anda merasakan seperti malas untuk bersolat. Sepertinya kita ini telah merudum imannya. Mengapa terjadi hal sebegini?

Hal ini(merasa iman berkurang pada malamnya) adalah kerana amalan anda sewaktu siang harinya. Cuba anda perhatikan, adakah bibir anda basah dek berzikir kepada Allah pada siang hari? Sejauh  manakah anda mengingati Kekasih kita ini? Maka sama-sama kita perbaiki amalan seharian kita, agar kita istiqamah(berterusan) melakukan amalan baik bahkan yang fardhu. Sentiasalah mengingati Allah dan Allah akan ingat kepada kita dengan mendetikkan hati kita, cuma kita yang tidak tahu.

Wudhuk

Mengambil wudhuk akan kita lakukan sebelum kita melaksanakan solat. Wudhuk ini dilaksanakan untuk mensucikan tubuh kita. Secara fisiologinya, mandi akan menyegarkan tubuh kita. Namun agak ‘melampau’ mandi berkali-kali setiap hari, banyakkah baju dalam almari untuk dipakai? Oleh itu, Nabi ﷺmenggalakkan kita sentiasa berwudhuk, wudhuk adalah seperti ‘mandi kecil-kecillan’ untuk segarkan badan. Secara rohaninya, wudhuk akan menjatuhkan dosa-dosa kita di anggota badan kita, setelah itu kita akan merasa segar.

   Maka, sentiasalah berwudhuk. Dengan berwudhuk, anda merasa mudah melaksanakan solat. Bukan setakat mengambil wudhuk sebelum solat, bahkan saat kita terluang waktu.

 Daripada Nu'am Al-Mujmir   :

Suatu ketika, aku naik ke atas loteng masjid, bersama-sama Abu Hurairah. Dia mengambil wudhuk dan berkata: “Aku telah dengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada Hari Kebangkitan, umatku akan digelar "Al-Ghurr-ul-Muhajjalin" daripada kesan wuduknya(bercahaya) dan barangsiapa mampu meluaskan kawasan ghurrannya patut melakukannya (Yakni, sentiasa mengambil wudhuk).' "

[Hadis Riwayat Bukhari : Jilid 1 :  Bab 4(Wudhuk) : Hadis 138]

   Sama-samalah kita memelihara wudhuk kita, kelak Allah akan memelihara kita juga.

Menjaga makan

Makanan baik  membentuk tubuh yang sihat, begitu juga sebaliknya. Insan yang memelihara dirinya daripada makan makanan yang  haram dan meragukan akan Allah makbulkan doa-doanya dengan segera.
Makanan buruk akan menjadikan kita lemah, bahkan menjadikan kita malas untuk beribadat kepada Allah swt.

Daripada Wahb bin Kaisan Abi Nu'aim  :

Makanan dibawa kepada Rasulullah ﷺ dan juga anak tirinya, Umar bin Abi Salama(anak kepada isterinya, Umm Salamah) yang turut bersama baginda ﷺ . Baginda bersabda kepada dia, “Sebutlah Nama Allah dan makanlah makanan yang paling hampir denganmu.”

[Hadis Riwayat Bukhari: Jilid 7, Kitab 65(Perihal Makanan), Hadis 290]

Daripada Abu Juhaifa :

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku tidak makan ketika bersandar.”

[Hadis Riwayat Bukhari: Jilid 7, Kitab 65(Perihal Makanan), Hadis 310]

Memberi kepada orang yang tidak memberi kita

Semestinya, apabila orang melakukan kebaikan kepada kita walaupun kita berbuat jahat kepada mereka  selama ini, pasti timbul keinsafan yang mendalam terhadap kita.

 Nabi Muhammad ﷺ sentiasa mendidik kita untuk berbuat baik, walaupun kepada  orang yang berbuat jahat kepada kita. Bahkan, Allah akan membalas kebaikan kita di dunia ini dengan balasan baik di akhirat.

Daripada Anas bin Malik :

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiada di kalangan orang Muslim yang menanam pokok atau benih, dan kemudian burung, atau seseorang atau haiwan makan daripadanya, melainkan dikira sebagai sedekah untuknya.”

[Hadis Riwayat Bukhari: Jilid 3, Kitab 39(Tanaman), Hadis 513]

Memohon Ampun Atas Dosa

Daripada Abu Huraira  :

Aku terdengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesiapa melakukan dosa dan kemudian berkata, Ya Tuhanku! Aku telah berbuat dosa, ampunkan aku.' Dan Tuhannya berfirman, Hambaku tahu dia mempunya tuhan yang memaafkan dosa dan memberi balasan atasnya, maka aku ampunkan hambaKu(dosanya).” Kemudian dia tidak melakukan dosa buat seketika dan kemudian sekali lagi dia melakukan dosa dan berkata “Ya Tuhanku! Aku telah berbuat dosa, ampunkan aku.” Dan Tuhannya berfirman, Hambaku tahu dia mempunya tuhan yang memaafkan dosa dan memberi balasan atasnya, maka aku ampunkan hambaKu(dosanya).”

Kemudian dia tidak melakukan dosa buat seketika dan kemudian sekali lagi dia melakukan dosa(untuk kali ketiga) dan berkata “Ya Tuhanku! Aku telah berbuat dosa, ampunkan aku.” Dan Tuhannya berfirman, Hambaku tahu dia mempunya tuhan yang memaafkan dosa dan memberi balasan atasnya, maka aku ampunkan hambaKu(dosanya), dia boleh lakukan apa sahaja yang dikehendakinya.”

Tidak Menyukutukan Allah

Dari Anas , dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Allah ta’ala berfirman: “Hai anak  Adam, sesungguhnya selama kau masih suka berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti Aku mengampunimu atas dosa apa saja yang ada pada dirimu dan Aku tidak peduli (akan banyaknya). Hai anak Adam, jika dosa-dosamu sampai mencapai mega di langit, kemudian kau beristighfar kepada-Ku pastilah Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam, sesungguhnya jika kau datang kepada-Ku dengan membawa sepenuh isi bumi kesalahan, kemudian kau menemui Aku, asal engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, nescaya Aku akan datang kepadamu dengan sepenuh isi bumi keampunan.”.”

[HR Tirmidzi]

Wahai sahabat Muslimku, sejahat manapun anda di dunia ini, jangan sesekali menyekutukan Allah dengan sesuatu. Kerana tiada ampun di akhirat bagi orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu. Apabila anda menyekutukan Allah, nescaya imanmu akan bertambah goyah.