Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 November 2017

Harta yang Berkah: Pengertian dan Tips Meraihnya

Harta yang Berkah: Pengertian dan Tips Meraihnya
Pengertian Harta yang Berkah adalah harta kekayaan yang membawa kebaikan bagi diri, keluarga, dan orang lain.

Kata BERKAH (barokah, berkat) sendiri memiliki dua arti: (1) tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan (2) kebaikan yang berkesinambungan.

Menurut Syekh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi".

Menurut Imam Ghazali, nerkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambah-tambahnya kebaikan” (Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79).

Harta, kekayaan, atau rezeki yang berkah adalah harta yang bertambah dan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat.

Untuk mencapainya, ada dua jalan, yakni:
  1. Mendapatkannya dengan cara halal, tidak curang atau batil. Harta hasil mencuri, maling, korupsi, pungli, tentu tidak akan berkah.
  2. Membersihkannya dari hak orang lain (dikeluarkan zakatnya) serta menginfakkannya di jalan Allah dengan cara infak, sedekah, atau wakaf.

Selain itu, agar harta berkah, kita harus menjadikan harta sebagai sarana beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai harta habis dikonsumsi di dunia, tanpa menabungkannya berupa pahala di akhirat kelak --yakni dengan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf).

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 7 bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 261)

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah ; 245).

 “Harta tidak akan berkurang karena sedekah, dan tidaklah Allah menambah bagi hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang yang berlaku tawadlu’ karena Allah melainkan Dia akan meninggikannya.” (HR. Muslim).

"Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barangsiapa menyambutnya dengan murah hati (ridha), maka ia akan memperoleh berkah. Dan barangsiapa mengambilnya dengan tamak serta curang, maka ia tidak akan memperoleh berkah. Ia seperti orang yang makan, tapi tidak pernah kenyang." (HR Muslim).

Demikian ulasan ringkas tentang harta yang berkah dan cara meraihnya. Berbahagialah orang yang banyak harta dan menggunakannya sebagai sarana ibadah dan menebar kebaikan, termasuk donasi untuk dakwah dan perjuangan kaum Muslim menegakkan agama Allah SWT (Islam).  Wallahu a’lam bish-shawabi.*

Jumat, 24 November 2017

Ciri-Ciri Muslim (Mukmin) Sejati menurut QS Al-Anfal:2-4

Ciri-Ciri Muslim (Mukmin) Sejati menurut Al-Quran Surat Al-Anfal:2-4 

Ciri-Ciri Muslim (Mukmin) Sejati menurut QS Al-Anfal:2-4

ORANG-ORANG yang beriman kepada Allah SWT, yakni kaum mukmin atau kaum Muslim, senantiasa membuktikan dan menunjukkan keimanannya dengan perilaku baik atau amal sholeh.

Banyak ayat Al-Quran yang menyebutkan ciri-ciri orang yang benar-benar beriman, di antaranya QS. Al-Anfal:2-4.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُہُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُهُ ۥ زَادَتۡہُمۡ إِيمَـٰنً۬ا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (٢) ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ (٣)أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقًّ۬ا‌ۚ لَّهُمۡ دَرَجَـٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ۬ وَرِزۡقٌ۬ ڪَرِيمٌ۬ (٤)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, maka gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal:2-4).

Ayat tersebut menyebutkan lima ciri mukmin sejati, yakni:
  1. Hatinya bergetar saat mendengar nama Allah SWT
  2. Keimanannya bertambah saat mendengar lantunan atau bacaan ayat Al-Quran
  3. Bertawakal (berserah diri) hanya kepada Allah SWT
  4. Mendirikan shalat
  5. Menafkahkan rezeki di jalan Allah.  
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan makna ayat di atas antara lain sebagai berikut.

Ali Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, orang-orang munafik tidak terpengaruh jika nama Allah SWT disebut. Mereka sama sekali tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, tidak bertawakal, tidak shalat apabila sendirian, dan tidak menunaikan zakat harta bendanya.

Allah menyebutkan, mereka --kaum munafiqin-- bukan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka. Karena itu, maka mereka mengerjakan hal-hal yang difardukan-Nya.

Jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, atau mendengar lantunan ayat Al-Quran, maka bertambah­lah iman mereka. Kepercayaan mereka makin bertambah tebal dan mendalam dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. Mukim sejati tidak mengharapkan kepada seorang pun selain-Nya.

Mujahid mengatakan, orang mukmin itu ialah orang yang apabila disebut nama Allah hatinya gemetar karena takut kepada-Nya.

Sufyan As-Sauri mengatakan, ia pernah mendengar As-Saddi mengatakan, sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah maka gemetarlah hati mereka. Yang dimaksud ialah seorang lelaki yang apabila ia hendak berbuat aniaya (dosa) atau hampir berbuat maksiat, lalu dikatakan kepadanya.”Bertakwalah kepada Allah!" Maka gemetarlah hatinya (dan membatalkan perbuatan aniaya atau maksiatnya)

 As-Sauri telah mengatakan pula dari Abdullah ibnu Usman ibnu Khaisam. dari Syahr ibnu Hausyab, dari Ummu Darda, pengertian lafaz al-wajal fil qalbi (hati yang gemetar), perumpamaannya sama dengan rasa sakit akibat bisul, tidakkah engkau merasakan denyutan sakitnya? Dikatakan, "Ya." Maka Ummu Darda berkata, ”Apabila engkau merasakan hal tersebut, maka berdoalah kepada Allah saat itu juga, karena sesungguhnya doa dapat melenyapkan hal itu."

Imam Bukhari dan lain-lainnya dari kalangan para imam mengambil kesimpulan dalil dari ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang semakna, iman itu dapat bertambah (dan dapat berkurang), serta iman itu dalam hati mempunyai grafik naik turunnya.

Qatadah mengatakan, mendirikan shalat ialah memelihara waktu-waktu penunaiannya, wudhunya, rukuk dan sujudnya.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, mendirikan salat artinya memelihara waktu-waktu penunaiannya; menyempurnakan bersuanya, melakukan rukuk dan sujudnya dengan sempurna, membaca Al-Qur'an di dalamnya, serta membaca tasyahhud dan salawat untuk Nabi Saw.

Sifat orang yang beriman lainnya ialah menafkahkan sebagian dari apa yang direzekikan oleh Allah kepada mereka; termasuk ke dalam pengertian ini ialah mengeluarkan zakat dan semua hak hamba-hamba Allah, baik yang wajib maupun yang sunat.

Semua makhluk adalah tanggungan Allah, maka orang yang paling disukai oleh Allah di antara mereka adalah orang yang paling bermanfaat bagi makhluk-Nya.

 Qatadah mengatakan, sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Al-Anfal: 3) Yakni belanjakanlah sebagian dari rezeki Allah yang diberikan kepada kalian karena sesungguhnya harta ini adalah pinjaman dan titipan yang diserahkan kepadamu, hai anak Adam! Dan dalam waktu yang dekat kamu akan berpisah dengannya.

Demikianlah  Ciri-Ciri Muslim (Mukmin) Sejati menurut QS Al-Anfal:2-4. Jika hati bergetar mendengar Asma Allah dan iman bertambah ketika mendengar ayat Quran dibacakan, maka mukmin sejati juga akan membela dan siap berjuang dengan berkorban apa saja demi membela agama Allah dan martabat Al-Quran. Wallahu a'lam bish-showabi.*